Beata Eurosia Fabris Barban, Kekudusan yang Bertumbuh di Dapur dan Ruang Jahit

8 Januari 2026 | 02.47 WIB

beata-eurosia-fabris-barban-kekudusan-yang-bertumbuh-di-dapur-dan-ruang-jahit

SANCTORY - Di sebuah rumah sederhana di Marola, wilayah Vicenza, Italia, pernah hidup seorang perempuan yang karya dan perannya begitu besar, meski jejak langkahnya nyaris tak pernah meninggalkan dapur, ruang jahit, kebun kecil, dan bangku gereja. Namanya Beata Eurosia Fabris Barban, yang oleh banyak orang dipanggil dengan penuh cinta sebagai Mamma Rosa. Ia bukan ratu, bukan tokoh terkenal, bukan pula orang berpendidikan tinggi. Namun dari tangannya yang terampil menjahit, dari doanya yang sunyi, dan dari kasihnya yang tak pernah habis, lahirlah sebuah kisah tentang kekudusan yang tumbuh di tengah kehidupan keluarga biasa.

Karya terbesar Eurosia bukanlah bangunan megah atau tulisan tebal berjilid-jilid. Karyanya adalah kehidupan itu sendiri. Ia membangun sebuah rumah yang menjadi sekolah kasih, tempat anak-anak belajar tentang doa, kerja keras, pengampunan, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Sebagai seorang ibu, istri, katekis, dan anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus, Eurosia menghidupi iman bukan lewat kata-kata indah, melainkan lewat perbuatan kecil yang dilakukan setiap hari dengan setia.

Eurosia dikenal luas sebagai seorang ibu dari sembilan anak kandung. Dari rahim dan asuhan tangannya lahir anak-anak yang tumbuh dalam iman yang kuat, hingga tiga di antaranya kelak dipanggil menjadi imam. Namun kisah pengasuhannya tidak berhenti di situ. Pintu rumah dan pintu hatinya selalu terbuka. Ia menerima tiga anak lain sebagai anak angkat dan membesarkan mereka dengan kasih yang sama seperti anak-anaknya sendiri. Bagi Mamma Rosa, setiap anak adalah titipan Tuhan, bukan beban, melainkan anugerah.

Peran Eurosia dalam keluarga begitu nyata. Ia adalah pusat kehidupan rumah tangga, seperti matahari kecil yang menghangatkan semua orang di sekitarnya. Ia bangun paling pagi dan sering tidur paling akhir. Tangannya sibuk menjahit pakaian untuk menambah penghasilan keluarga, sementara hatinya sibuk berdoa, mempersembahkan setiap pekerjaan kecilnya sebagai doa yang hidup. Sebagai penjahit, ia bukan hanya memperbaiki kain yang robek, tetapi juga menambal hati yang lelah dengan kata-kata lembut dan senyum yang menenangkan.

Di Paroki Marola, Eurosia dikenal sebagai katekis yang setia. Dengan pendidikan formal yang hanya ia nikmati selama dua tahun, ia tidak merasa rendah diri. Ia belajar sepanjang hidupnya. Kitab Suci, katekismus, dan buku-buku rohani menjadi gurunya. Ia mengajarkan iman kepada anak-anak dengan bahasa sederhana, penuh kesabaran, dan disertai teladan hidup. Anak-anak tidak hanya mendengar ajaran tentang Yesus, tetapi melihatnya hidup dalam diri Mamma Rosa.

Devosinya begitu kaya dan mendalam. Ia mencintai Roh Kudus, yang ia mohonkan setiap hari agar membimbing langkahnya. Ia sangat mengasihi Ekaristi Mahakudus, sumber kekuatan yang membuatnya mampu menjalani hari-hari yang berat dengan hati yang tetap damai. Ia mempercayakan hidupnya kepada Bunda Maria, yang ia pandang sebagai ibu yang setia mendampingi setiap keluarga. Doanya juga tak pernah melupakan jiwa-jiwa yang menantikan pemurnian, sebuah tanda hatinya yang luas dan penuh belas kasih.

Nama Eurosia berasal dari bahasa Yunani yang berarti memiliki kesehatan tubuh dan kekuatan batin yang baik. Nama itu seakan menjadi gambaran hidupnya. Tubuhnya mungkin lelah oleh kerja tanpa henti, tetapi batinnya tetap kuat karena bersandar sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan keluarga yang berharap kepada-Nya.

Peran besar Eurosia mulai terlihat jelas ketika sebuah peristiwa menyentuh hatinya dengan sangat dalam. Di dekat rumahnya, seorang ibu muda meninggal dan meninggalkan anak-anak kecil yang tak berdaya. Eurosia, yang saat itu masih gadis muda, datang setiap pagi selama enam bulan untuk merawat dua bayi yang tersisa. Dari karya kasih yang sederhana itu, lahirlah sebuah panggilan hidup. Ia memilih menikah dengan Carlo Barban, ayah dari anak-anak yatim tersebut, bukan karena kenyamanan, tetapi karena ketaatan pada kehendak Tuhan. Banyak orang, termasuk pastor parokinya, melihat keputusan itu sebagai tindakan kasih yang sungguh heroik.

Sebagai istri, Eurosia menjadi pendamping yang setia. Ia tidak hanya mengurus rumah, tetapi juga menjadi sahabat dan penopang bagi suaminya. Ketika suaminya sakit keras, ia merawatnya dengan kesabaran dan cinta hingga akhir hayatnya. Kesetiaannya tidak lahir dari kewajiban semata, tetapi dari cinta yang ia persembahkan kepada Tuhan melalui keluarganya.

Di mata masyarakat sederhana di Vicenza, bahkan hingga ke Amerika Serikat, Mamma Rosa dikenal sebagai tempat bersandar. Banyak istri muda datang memohon doa dan nasihatnya. Banyak yang merasakan pertolongannya, terutama mereka yang merindukan anak atau sedang menjalani proses adopsi. Ia juga mendampingi para seminaris muda yang mengalami keraguan dan kesulitan, memberi semangat agar mereka tetap setia pada panggilan hidup mereka. Dukungan Mamma Rosa sering kali tidak berupa kata panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan dan doa yang tulus.

Rumah Mamma Rosa menjadi sebuah komunitas kecil yang hidup. Di sanalah doa pagi dan doa malam menjadi kebiasaan. Anak-anak belajar bahwa bekerja dan berdoa tidak bisa dipisahkan. Mereka diajari untuk berbagi, bahkan ketika persediaan makanan tidak berlimpah. Eurosia pandai mengatur keuangan keluarga, tetapi hatinya selalu terbuka untuk orang miskin. Ia tidak ragu membagi roti harian kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Sebagai anggota Ordo Fransiskan Sekular, Eurosia menghidupi semangat Santo Fransiskus dengan cara yang sangat nyata. Ia mencintai kesederhanaan, hidup dalam sukacita, dan memuji Allah dalam segala keadaan. Ia melihat alam, keluarga, dan pekerjaan sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Sikapnya yang lembut membuat siapa pun merasa diterima dan dihargai.

Kisah hidup Mamma Rosa kemudian ditulis oleh putra kandungnya sendiri, Bernardino Barban, seorang imam Fransiskan yang juga dikenal sebagai Angelo Matteo Barban. Dari tangan seorang anak yang mengenal ibunya bukan hanya sebagai tokoh rohani, tetapi sebagai ibu yang penuh kasih, lahirlah sebuah biografi yang jujur dan menyentuh. Kisah ini semakin diperkaya oleh kajian teologis para akademisi Gereja, yang melihat dalam diri Eurosia sebuah contoh nyata tentang kekudusan dalam kehidupan keluarga.

Pada masa Paus Benediktus XVI, Gereja mengakui karya dan kesaksian hidupnya secara resmi. Ia menjadi pribadi pertama yang dibeatifikasi di luar Kota Roma pada masa itu, dalam sebuah perayaan yang berlangsung di Vicenza pada 6 November 2005. Pengakuan Gereja ini bukanlah akhir dari kisahnya, melainkan peneguhan bahwa kehidupan sederhana yang dijalani dengan kasih dan iman memiliki nilai yang luar biasa di mata Tuhan dan sesama.

Eurosia Fabris Barban, Mamma Rosa, menunjukkan bahwa peran seorang ibu dan perempuan sederhana dapat mengubah banyak hidup. Dari dapur rumah, ruang jahit, dan bangku gereja, ia menyalakan pelita kasih yang cahayanya terus bersinar, menghangatkan keluarga, Gereja, dan siapa pun yang belajar dari keteladanan hidupnya.


Bung Yan

Share on:

TikTokInstagram
back to blogs