Beata Pauline Marie Jaricot, Mengubah Luka Menjadi Mukjizat Dunia
9 Januari 2026 | 07.55 WIB
SANCTORY - Pada awal abad ke-19, kota Lyon di Prancis bukan hanya dikenal sebagai pusat industri sutra, tetapi juga sebagai tempat lahirnya berbagai pergulatan hidup manusia. Di balik gemerlap kain sutra dan hiruk-pikuk perdagangan, ada jurang lebar antara mereka yang hidup berkecukupan dan para buruh yang bekerja keras dengan upah seadanya. Di tengah situasi itulah Pauline Marie Jaricot tumbuh. Tantangan hidup yang kelak membentuk dirinya tidak datang sekaligus, melainkan perlahan, seperti gelombang yang mula-mula kecil, lalu semakin kuat menguji hati dan imannya.
Pauline lahir pada 22 Juli 1799 sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ia lahir dalam keluarga yang mapan. Ayahnya, Antoine Jaricot, memiliki pabrik sutra yang cukup besar. Rumah mereka hangat, penuh tawa, dan iman Katolik dijalani dengan sungguh. Sejak kecil, Pauline sudah melihat bagaimana orang tuanya tidak menutup mata terhadap orang miskin. Pintu rumah mereka terbuka bagi yang membutuhkan bantuan. Semua itu membentuk dasar imannya, meski pada masa remaja, Pauline belum sepenuhnya menyadari arti teladan itu.
Memasuki usia remaja, Pauline mulai mengenal dunia luar. Lyon dengan segala kesenangannya seolah memanggil. Ia dikenal cantik, pandai berbicara, dan mudah bergaul. Perhiasan, pakaian indah, dan pesta menjadi bagian dari hari-harinya. Ia senang dipuji dan menjadi pusat perhatian. Namun, di balik senyum dan penampilan anggun, hatinya sering bergolak. Pauline memiliki sifat keras dan mudah tersinggung. Ia ingin diakui, ingin dianggap penting. Tantangan terbesarnya saat itu bukanlah kemiskinan, melainkan kesombongan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Perubahan besar datang ketika Pauline masih sangat muda. Sebuah khotbah sederhana di gereja tentang kesombongan menembus hatinya. Kata-kata imam itu terasa seperti ditujukan langsung kepadanya. Pauline mulai bertanya dalam hati: untuk apa semua pujian dan keindahan jika suatu hari akan lenyap? Pertanyaan itu belum selesai terjawab ketika hidupnya diguncang oleh penderitaan fisik. Ia terjatuh dengan keras dari sebuah bangku. Sejak saat itu, tubuhnya sering bergerak tanpa kendali, bicaranya terganggu, dan rasa sakit tidak kunjung hilang. Ia yang dahulu lincah dan penuh percaya diri kini harus berjuang hanya untuk berdiri dan berjalan.
Belum cukup dengan penderitaan itu, Pauline kehilangan ibunya, sosok yang paling ia cintai. Tak lama kemudian, salah satu kakaknya pun meninggal dunia. Kesedihan menumpuk seperti awan gelap. Pauline menarik diri dari dunia. Ia jarang keluar rumah, kesehatannya menurun, dan para dokter tidak memberi banyak harapan. Di masa kini, para ahli menduga ia menderita gangguan saraf yang disebut Sydenham’s chorea. Bagi Pauline muda, semua itu terasa seperti pintu masa depan yang tertutup rapat.
Namun justru dalam kegelapan itulah, cahaya perlahan menyelinap. Pauline mulai menghabiskan waktu panjang dalam doa. Ia tidak lagi mencari pujian manusia, melainkan keheningan di hadapan Tuhan. Ia merenungkan sengsara dan wafat Yesus, dan menemukan bahwa penderitaan bukanlah tanda ditinggalkan, melainkan jalan untuk semakin dekat dengan kasih Allah. Pada malam Natal tahun 1816, dengan hati yang mantap, Pauline mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dan berkaul untuk hidup murni seumur hidup. Keputusan itu bukan pelarian, melainkan jawaban atas panggilan batin yang tumbuh dari luka dan air mata.
Dari pengalaman pribadi itulah karya-karya besar Pauline mulai berakar. Ia tidak memulai dengan rencana megah. Ia memulai dari hal kecil yang ada di sekitarnya. Pauline mengajak para buruh perempuan di pabrik sutra keluarganya untuk berkumpul dan berdoa bersama. Mereka adalah perempuan sederhana yang setiap hari bekerja keras. Dalam pertemuan itu, Pauline dan para buruh belajar menghibur Hati Kudus Yesus melalui doa dan hidup yang baik. Kelompok kecil ini dikenal sebagai Para Reparatrice. Di sana, Pauline belajar mendengarkan, berbagi, dan melayani tanpa merasa lebih tinggi dari yang lain.
Tantangan berikutnya datang ketika Pauline membaca sebuah buku kecil tentang karya misi. Buku itu menceritakan para imam dan misionaris yang pergi jauh ke negeri-negeri asing, hidup dalam kesulitan, dan sering kekurangan segalanya. Hati Pauline tergerak. Ia tahu dirinya tidak bisa pergi jauh seperti kakaknya, Philéas, yang menjadi misionaris di Quangnam. Namun ia yakin, ada sesuatu yang bisa dilakukan dari Lyon. Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan sederhana namun jenius. Pauline mengajak teman-temannya untuk berdoa bagi misi dan menyumbangkan satu sen setiap minggu. Jumlahnya sangat kecil, tetapi dilakukan bersama dan dengan setia.
Ia membagi orang-orang dalam kelompok kecil berisi sepuluh orang. Setiap orang diminta mengajak sepuluh orang lain. Cara ini membuat semangat doa dan berbagi menyebar seperti lingkaran air di kolam. Tantangan besar berupa keterbatasan dana dan jarak yang jauh justru dijawab dengan kebersamaan dan ketekunan. Dalam waktu singkat, ratusan orang terlibat. Dari sinilah lahir Serikat Penyebaran Iman, yang kelak mendukung misi Gereja di seluruh dunia tanpa membeda-bedakan bangsa dan negara.
Dalam perjalanan ini, Pauline tidak berjalan sendirian. Ia dibimbing oleh seorang imam sederhana dari desa Ars, Santo Yohanes Maria Vianney. Dari bimbingannya, Pauline belajar bahwa iman perlu diberi makan dengan cerita dan kesaksian. Ia mulai mencetak dan menyebarkan tulisan-tulisan rohani serta kisah para misionaris. Ia percaya, jika orang mengetahui penderitaan dan harapan di tempat-tempat jauh, hati mereka akan tergerak untuk membantu.
Tak berhenti di situ, Pauline kembali menemukan cara baru untuk mengajak orang berdoa. Pada tahun 1826, ia mendirikan Perhimpunan Rosario Hidup. Doa Rosario yang sering terasa panjang dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Lima belas orang berbagi doa, masing-masing mendoakan satu bagian setiap hari. Dengan cara ini, seluruh Rosario dipanjatkan bersama setiap hari. Tantangan berupa rasa malas dan kesibukan dijawab dengan pembagian tugas yang ringan namun setia. Perhimpunan ini berkembang pesat dan menjangkau banyak negara.
Meski karya-karyanya berkembang, hidup Pauline kembali diuji. Kesehatannya sering menurun. Ia kembali kehilangan orang-orang yang dicintainya. Dalam keadaan sakit parah, ia melakukan ziarah ke Italia. Di Mugnano, di hadapan Sakramen Mahakudus, Pauline mengalami kesembuhan yang ia yakini sebagai rahmat melalui doa Santo Filomena. Dengan penuh syukur, ia kembali ke Lyon dan membangun sebuah kapel sebagai tanda terima kasih.
Sekembalinya ke Lyon, Pauline menghadapi tantangan yang berbeda. Ia ingin membantu para pekerja keluar dari kemiskinan dengan mendirikan pabrik yang adil dan manusiawi. Di sekitarnya dibangun rumah, sekolah, dan kapel. Namun niat baik itu disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak jujur. Pauline ditipu dan kehilangan seluruh hartanya. Ia yang dahulu berasal dari keluarga kaya kini hidup dalam kemiskinan. Banyak orang meninggalkannya. Nama baiknya dipertanyakan. Namun Pauline memilih tetap setia. Ia tidak menarik kembali kasihnya, meski harus menanggung rasa malu dan kesepian.
Pauline wafat pada 9 Januari 1862 di Lyon dalam keadaan miskin, tetapi hatinya penuh harapan. Bertahun-tahun kemudian, Gereja meneliti hidup dan tulisan-tulisannya. Kesetiaannya dalam doa dan karya diakui. Paus Yohanes XXIII menetapkannya sebagai venerabilis. Mukjizat yang terjadi melalui doa perantaraannya diakui oleh Paus Fransiskus, membuka jalan menuju beatifikasinya pada 22 Mei 2022 di Lyon, kota tempat ia pernah jatuh, bangkit, bekerja, dan berharap.
Kisah hidup Beata Pauline Jaricot adalah kisah tentang tantangan yang diubah menjadi jalan pelayanan. Dari sakit dan kehilangan lahir ketekunan. Dari hal kecil lahir karya besar. Dari doa sederhana dan pemberian kecil tumbuh kekuatan yang menjangkau seluruh dunia. Melalui Serikat Penyebaran Iman dan Rosario Hidup, Pauline menunjukkan bahwa siapa pun, termasuk anak-anak dan orang muda, dapat menjadi bagian dari karya besar Tuhan jika mau setia, peduli, dan berbagi dengan kasih.
Bung Yan