Beato Alojzij Grozde, Doa, Buku, dan Kesetiaan Seorang Sahabat Yesus

1 Januari 2026 | 23.01 WIB

beato-alojzij-grozde-doa-buku-dan-kesetiaan-seorang-sahabat-yesus

SANCTORY - Setiap pagi, saat matahari belum tinggi, seorang anak bernama Alojzij Grozde sudah bangun dari tidurnya. Ia duduk tenang, menenangkan hati, lalu berdoa. Setelah itu, dengan langkah kecil namun penuh semangat, Alojzij pergi ke gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Seusai Misa, ia sering berlutut lama di depan Sakramen Maha Kudus, berbicara dalam hati kepada Yesus. Baru setelah itu, ia berangkat ke sekolah.

Alojzij lahir pada 27 Mei 1923 di sebuah desa kecil di Slovenia. Sejak kecil, ia sangat mencintai Bunda Maria. Ia rajin berdoa Rosario dan percaya bahwa Bunda Maria selalu menuntunnya. Karena kebiasaan baik itu, Alojzij dikenal sebagai anak yang saleh, rajin, dan cerdas.

Di sekolah, para guru dan temannya sangat menyukai Alojzij. Ia senang membaca buku, menulis cerita, dan membantu teman-temannya yang kesulitan belajar. Ia tidak pelit ilmu dan selalu mau menolong. Karena sikapnya itu, Alojzij terpilih menjadi siswa teladan.

Hidup Alojzij tidak selalu mudah. Sejak kecil, ia mengalami banyak kesedihan. Ia dibesarkan oleh ibunya yang bekerja keras sebagai buruh harian. Ketika ibunya menikah lagi, Alojzij merasa tidak nyaman. Akhirnya, ia memilih tinggal bersama bibinya, Ivanka, di kota Ljubljana.

Bibi Ivanka hidup sederhana dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Meski hidup pas-pasan, bibi Ivanka memberikan kasih sayang yang besar kepada Alojzij. Ia sangat bersyukur. Alojzij tahu, tanpa bibi Ivanka dan para dermawan, ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Baginya, bibi Ivanka adalah hadiah Tuhan dalam hidupnya.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, Alojzij melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Bahasa. Di sela-sela belajar, ia aktif dalam komunitas orang muda Katolik. Ia ingin hidup seperti Bunda Maria: rendah hati, setia, dan penuh kasih. Namun, ketika perang melanda negerinya, Alojzij memilih menjauh dari hal-hal yang berbau kekerasan dan politik. Ia ingin tetap fokus pada doa dan membantu sesama.

Pada 1 Januari 1943, Alojzij memutuskan pulang kampung untuk bertemu ibunya. Dalam perjalanan, ia sempat mengikuti Misa Jumat Pertama. Tanpa ia sadari, itulah Misa terakhir dalam hidupnya. Saat melanjutkan perjalanan, ia dihentikan oleh sekelompok orang yang mencurigainya hanya karena ia membawa buku-buku rohani.

Karena iman Katoliknya, Alojzij mengalami perlakuan yang sangat kejam. Dalam penderitaan itu, ia tetap setia kepada Yesus. Pada usia yang belum genap 20 tahun, Alojzij menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia wafat sebagai martir muda, seorang sahabat Yesus yang berani.

Beberapa minggu kemudian, jenazah Alojzij ditemukan dan dimakamkan dengan layak. Bertahun-tahun setelah itu, Gereja mengakui kesetiaan dan keberanian imannya. Pada tahun 2010, Gereja Katolik secara resmi menetapkan Alojzij Grozde sebagai beato, teladan bagi kaum muda di seluruh dunia.

 

Bung Yan

Share on:

TikTokInstagram
back to blogs