Beato Claude Colbert Lebeau, Cahaya Kecil yang Bertahan di Zaman Gelap

3 Januari 2026 | 10.39 WIB

beato-claude-colbert-lebeau-cahaya-kecil-yang-bertahan-di-zaman-gelap

SANCTORY - Di sebuah desa kecil bernama Paizay-le-Sec, di wilayah Vienne, Prancis, Senin pagi, 23 Oktober 1922, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak hidupnya menjadi cahaya kecil di tengah zaman yang gelap.


Masuk Pramuka

Namanya Claude-Colbert Lebeau. Desa tempat ia dilahirkan sunyi dan sederhana, dengan ladang-ladang luas dan para penduduk yang saling mengenal satu sama lain. Di sanalah Colbert tumbuh sebagai anak biasa, anak desa yang rajin, sederhana, dan penuh rasa ingin tahu.

Sejak kecil, Colbert dikenal sebagai anak yang tekun dan mudah bergaul. Ia tidak suka menonjolkan diri, tetapi selalu bisa diandalkan. Ia belajar menghargai waktu, kerja keras, dan kebersamaan. Ketika bergabung dengan Pramuka, ia menemukan dunia yang membentuk hatinya. Dari Pramuka, Colbert belajar arti persahabatan, disiplin, keberanian, dan kepedulian kepada sesama. Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang orang lain yang membutuhkan uluran tangan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di kota Châtellerault, Colbert mulai bekerja sebagai pegawai bank di Crédit de l’Ouest. Pekerjaan itu dijalaninya dengan penuh tanggung jawab. Ia datang tepat waktu, bekerja dengan jujur, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Pada masa itu, hidupnya tampak berjalan seperti anak muda lain. Ia telah bertunangan, mulai merencanakan masa depan, dan perlahan menapaki dunia orang dewasa.


Memimpin dengan Teladan

Di balik kehidupan yang tampak tenang itu, hati Colbert selalu gelisah melihat ketidakadilan di sekitarnya. Sejak muda, ia merasa terpanggil untuk membela martabat manusia. Ia tidak tahan melihat orang-orang diperlakukan semena-mena. Karena itulah ia bergabung dengan Jeunesse Ouvrière Chrétienne (JOC), gerakan Orang Muda Katolik Pekerja (di Indonesia seperti Kelompok Karyawan Muda Katolik/KKMK). Di sana, Colbert menemukan ruang untuk melayani, mendengarkan, dan menguatkan sesama pekerja muda.

Kejujuran, kesungguhan, dan ketenangannya membuat banyak orang percaya kepadanya. Tidak lama kemudian, Colbert dipercaya menjadi penanggung jawab JOC tingkat federasi. Tugas itu tidak mudah, terlebih karena Prancis saat itu berada di bawah pendudukan Nazi. Semua kegiatan yang mengumpulkan orang muda, termasuk Pramuka dan JOC, dianggap berbahaya. Pertemuan harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dengan penuh kehati-hatian.

Colbert memimpin sekitar 250 orang muda. Ia bukan pemimpin yang memerintah dengan suara keras, melainkan dengan teladan. Ia mendengarkan, mengajak berdialog, dan memberi penguatan. Pendamping rohaninya, Romo Chesseron, menyadari betapa besar risiko yang mereka hadapi. Demi melindungi para anggota, semua dokumen kegiatan JOC dibakar. Itu adalah keputusan berat, tetapi perlu, agar tidak ada bukti yang bisa membahayakan siapa pun.

Pada 8 Maret 1943, hidup Colbert kembali diuji. Ia dipaksa berangkat ke Jerman untuk mengikuti Service du Travail Obligatoire, kerja paksa yang diwajibkan oleh pemerintah Nazi. Banyak orang muda merasa takut dan putus asa. Jauh dari keluarga, tanah air, dan kebebasan, mereka harus bekerja demi kepentingan perang yang tidak mereka setujui.

Namun Colbert mengambil keputusan dengan hati yang jernih. Ia teringat seruan Kardinal Emmanuel Suhard, Uskup Agung Paris, yang mengajak para imam dan anggota JOC untuk mendampingi orang-orang muda Prancis di Jerman. Colbert berkata dengan tegas, “Aku harus pergi. Para pekerja muda akan membutuhkan aku.” Ia tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Ia memilih hadir bagi mereka yang lemah dan tertekan.

Di Jerman, Colbert ditempatkan di pabrik pengolahan batu bara di Mücheln-Geiseltal, dekat Leipzig. Pekerjaan di sana sangat berat. Jam kerja panjang, makanan sedikit, dan pengawasan sangat ketat. Banyak pekerja jatuh sakit dan kehilangan harapan. Di tengah situasi itu, Colbert tetap menjadi dirinya sendiri. Ia mendengarkan keluh kesah, menghibur yang putus asa, dan mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian.


Menemukan Panggilan

Ia menjalin hubungan dengan sesama orang Kristen. Pada Juli 1943, setelah misa yang diadakan secara diam-diam, ia bertemu Romo Clément Cotte. Imam itu memintanya menjadi penanggung jawab umat Katolik di kamp Mücheln. Colbert menerimanya sebagai sebuah panggilan. Ia berkeliling ke berbagai tempat, memimpin pertemuan kecil, berbagi iman, dan mengadakan pendalaman rohani secara rahasia. Semua dilakukan dengan risiko besar.

Pemerintah Nazi menganggap kegiatan ini sangat berbahaya. Pada 3 Desember 1943, keluar dekret yang melarang aksi Katolik Prancis di kalangan pekerja Prancis di Jerman. Gestapo telah lama mengawasi Colbert. Surat-suratnya disita, dan ia dituduh memimpin kegiatan “revolusioner”.

Pada 13 September 1944, Colbert ditangkap di tempat kerjanya. Ia dibawa ke penjara Halle dan diperiksa dengan sangat keras. Ia dituduh melawan nasional-sosialisme dan merusak semangat rakyat Jerman. Bersama para aktivis Katolik lainnya, Colbert dipenjara dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Pada 21 November, ia dikirim ke kamp disiplin Spergau, lalu ke kamp Zöschen, tempat yang terkenal kejam dan hampir tanpa harapan.

Di kamp Zöschen, penderitaan mencapai puncaknya. Tubuh Colbert semakin lemah karena kerja berat dan kurang makan. Namun hatinya tetap kuat. Ia masih berusaha membantu sesama tahanan, berbagi kata penguatan, dan menghadirkan harapan kecil di tengah keputusasaan. Dalam sebuah surat, ia menulis dengan rendah hati bahwa Penyelenggaraan Ilahi menempatkannya di sana ketika tidak ada pemimpin lain yang berani mendampingi para pekerja muda.

Pada 3 Januari 1945, Colbert Lebeau wafat di ruang perawatan kamp Zöschen. Ia meninggal dalam kesunyian, jauh dari rumah dan orang-orang yang dicintainya. Usianya baru 26 tahun. Setelah perang berakhir, jenazahnya dipulangkan ke Prancis dan dimakamkan di pemakaman Saint-Jacques di Châtellerault.


Menjalani dengan Setia

Bertahun-tahun kemudian, pada 8 Mei 2017, sebuah plakat peringatan diberkati di gereja tempat Colbert dibaptis. Uskup Pascal Wintzer mengatakan bahwa Colbert hidup dalam kesetiaan ganda: setia kepada Tuhan dan setia kepada para pekerja. Ia mencintai Tuhan dan mencintai sesamanya, bahkan ketika cinta itu harus dibayar dengan penderitaan.

Kisah Colbert Lebeau mengingatkan kita bahwa keberanian tidak selalu berarti berteriak lantang. Kadang, keberanian adalah tetap berbuat baik ketika semua orang melarang. Kesetiaan adalah tetap berjalan di jalan yang benar meski jalan itu sepi dan berbahaya. Melalui hidupnya yang singkat, Colbert mengajarkan bahwa setiap anak muda, sekecil apa pun, bisa menjadi terang bagi dunia jika ia setia pada suara hati dan cinta kasih.


Bung Yan

Share on:

TikTokInstagram
back to blogs