Gua Maria Pengurai Simpul Masalah dan Rasa Penasaran Anak-Anak

11 Desember 2025 | 04.22 WIB

gua-maria-pengurai-simpul-masalah-dan-rasa-penasaran-anak-anak

Gerimis kecil turun saat matahari nyaris berada tegak lurus di atas kepala. Sang banyu menempel di dedaunan dan membuat tanah di pelataran Gereja Kristus Raja mulai menghitam oleh basah. Udara terasa lembut, seolah sedang mengajak orang untuk berjalan pelan dan hening. Di kawasan Indonesia Peace and Security Centre (IPSC), Sentul, Senin, 8 Desember 2025—segala sesuatu tampak tenang.

Ketenangan itu mendadak berubah menjadi riuh kecil ketika pintu sejumlah kendaraan terbuka. Dari dalamnya, beberapa murid SD Marsudirini Bekasi melompat turun satu per satu. Ada yang bercengkerama, ada yang masih menyeka mata usai tertidur, dan ada juga yang langsung berlari kecil menuju arah yang mereka tuju.

Tujuan mereka adalah Gua Maria Pengurai Simpul Masalah, sebuah gua yang berdiri persis di sisi gereja. Gua itu tampak sederhana tetapi hangat: patung Bunda Maria berdiri di tengahnya, mengenakan jubah merah-biru, tangan terulur lembut seolah sedang menyentuh simpul yang kusut. Di hadapannya, lilin-lilin kecil menyala, memantulkan cahaya kuning yang bergetar tertiup angin basah.

Di sana, anak-anak berkumpul dan memulai doa Rosario bersama. Suara mereka yang masih bergetar oleh dingin terdengar bersahut-sahutan. Setelah doa selesai, masih duduk di bawah atap kecil yang melindungi mereka dari gerimis, Content Director Sanctory, Yanuari Marwanto menjelaskan sejarah devosi Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah. 

Saat sesi tanya-jawab dimulai, suasana seketika berubah menjadi meriah.

Seorang anak laki-laki kelas 3, Danis, mengangkat tangan tinggi-tinggi. Wajahnya serius, tetapi matanya berbinar ingin tahu.

“Om,” katanya, “saya pernah dengar Bunda Maria dari Lourdes. Dari Fatima juga ada. Dari Segala Suku juga ada. Kalau begitu… berarti Bunda Maria ada banyak dong?”

Tawa kecil pecah dari rombongan. Beberapa anak mengangguk cepat, merasa pertanyaan Danis adalah pertanyaan yang diam-diam mereka pikirkan juga.

Belum sempat Yanuari menjawab, tangan lain terangkat.

“Kalau Bunda Maria bisa mengurai simpul masalah…” ujar Gregory, perlahan, “berarti… bisa bantu saat ulangan dong Om?”

Pertanyaan itu membuat seluruh rombongan pecah oleh tawa. Bahkan gerimis pun seolah ikut tersenyum.


Berawal dari Jerman

Devosi kepada Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah dimulai jauh sekali dari sini. Di Jerman, sekitar tahun 1700, seorang imam di kota Augsburg meminta seorang pelukis bernama Johann Melchior Georg Schmittdner membuat sebuah lukisan. Pelukis itu terinspirasi dari kata-kata Santo Ireneus, seorang martir yang hidup hampir dua ribu tahun lalu.

Santo Ireneus berkata bahwa “simpul” yang terjadi karena ketidaktaatan Hawa—perempuan pertama dalam Kitab Suci—telah “diurai” oleh ketaatan Bunda Maria. Kata-kata itu memberi gambaran yang indah: bahwa Maria seperti seorang ibu yang sabar membuka simpul-simpul kusut pada benang kehidupan manusia.

Dalam lukisan itu, Maria digambarkan memegang pita panjang yang penuh simpul. Dengan lembut ia menguraikan satu per satu. Di bawah kakinya, malaikat-malaikat kecil membantu, seolah berkata bahwa tidak ada masalah terlalu besar bila dibawa kepada Tuhan.

Lukisan tersebut mulai dihormati sejak tahun 1706, dengan nama asli Nuestra Señora de Knotenlöserin. Lukisan itu kemudian digantung di sebuah gereja kuno bernama Santo Petrus di Perlack, Augsburg.


Dua Paus

Beberapa abad kemudian, ada seorang imam muda asal Argentina yang sedang belajar di Jerman. Namanya Romo Jorge Mario Bergoglio, SJ. Romo muda itu kelak dikenal dunia sebagai Paus Fransiskus.

Saat melihat lukisan itu, ia merasa disentuh oleh makna dan gambarnya. Ia membawa pulang salinannya ke Argentina. Ia memperkenalkannya kepada umat di tanah kelahirannya. Tanpa diduga, devosi ini tumbuh subur dan dicintai.

Devosi itu kemudian menjadi jembatan yang indah antara dua Paus. Paus Benediktus XVI berasal dari Bavaria—wilayah tempat devosi itu lahir. Paus Fransiskus adalah imam yang menumbuhkannya kembali di Amerika Latin. Bahkan, Romo Jorge pernah memberikan sebuah cawan yang diukir dengan gambar Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah kepada Paus Benediktus XVI. Dua Paus, dua benua, satu devosi yang sama.

Devosi ini mengajak orang untuk percaya bahwa dalam hidup semua orang ada “simpul-simpul”: masalah, kekhawatiran, kesulitan belajar, pertengkaran kecil, rasa takut, bahkan hal-hal yang tak bisa dijelaskan. Lewat doa dan iman, umat memohon dengan perantaraan Bunda Maria untuk membantu mengurai simpul-simpul itu agar hati manusia bisa kembali damai dan dekat dengan Tuhan.


Jembatan Iman

Yanuar menjelaskan Sanctory punya misi untuk menjadi jembatan iman terutama kepada anak-anak. "Kami ingin anak-anak mengenal kekayaan Gereja Katolik, tetapi dengan cara yang menyenangkan. Dengan komik, dengan gambar, dengan cerita, anak-anak bisa mengenal "harta karun" yang dimiliki oleh Gereja Katolik, salah satunya tradisi dan devosi Bunda Maria Pengurai Simpul Masalah dengan cara yang santai dan menyenangkan," ujarnya. 

 

Penulis: BY
Foto: Ferry Sutedja

 

Share on:

TikTokInstagram
back to blogs