Santa Elizabeth Ann Seton SC, Orang Kudus Pertama Kelahiran Amerika
4 Januari 2026 | 13.42 WIB
SANCTORY - Hidup Elizabeth Ann Seton tidak dimulai dengan jalan yang mudah. Sejak masa kecilnya, ia sudah mengenal kehilangan, kesedihan, dan perjuangan. Justru dari berbagai tantangan dan kesulitan itulah tumbuh iman yang kuat, kasih yang besar, dan keberanian yang kelak menjadikannya teladan bagi banyak orang, terutama anak-anak dan mereka yang miskin.
Elizabeth Ann Seton lahir di Kota New York pada tanggal 28 Agustus 1774. Nama lengkapnya sebelum menikah adalah Elizabeth Ann Bayley. Ia lahir dalam keluarga Anglikan yang terpandang dan saleh. Ayahnya, Richard Bayley, adalah seorang dokter bedah yang sangat dihormati, sementara ibunya, Catherine Charlton, berasal dari keluarga rohaniwan Gereja Inggris. Beberapa hari setelah kelahirannya, Elizabeth dibaptis di Gereja Tritunggal, sebuah gereja Anglikan di New York. Keluarganya terbiasa pergi ke gereja setiap hari Minggu dan hidup dengan nilai-nilai iman yang kuat.
Kebahagiaan Elizabeth tidak berlangsung lama. Ketika ia baru berusia tiga tahun, ibunya meninggal. Kehilangan itu meninggalkan luka yang dalam di hatinya. Sejak saat itu, Elizabeth menjadi sangat dekat dengan ayahnya. Ayahnyalah yang membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Setiap hari, Elizabeth sering duduk di dekat jendela ruang belajar, menunggu ayahnya pulang dari bekerja. Begitu melihat sosok ayahnya di kejauhan, ia akan berlari keluar, memeluk, dan mencium ayahnya dengan penuh rindu.
Dalam kondisi menduda, sang ayah tidak hanya memperhatikan pendidikan iman anak-anaknya, tetapi juga ilmu pengetahuan, seni, dan pembentukan karakter. Elizabeth tumbuh menjadi gadis kecil yang manis, bertubuh ramping, bermata cokelat besar, dan penuh pesona. Ia pandai berbahasa Prancis, menyukai musik terutama bermain piano, gemar menunggang kuda, serta mencintai puisi dan alam. Di balik keceriaannya, Elizabeth memiliki jiwa yang dalam. Ia suka merenung dan sejak muda sudah terbiasa menulis catatan harian berisi doa, perasaan hati, dan pencariannya akan Tuhan.
Ketika beranjak dewasa, Elizabeth dikenal sebagai pribadi yang ramah dan menyenangkan. Ia sering diundang ke pesta dan perjamuan, menikmati kehidupan sosial yang ramai. Namun jauh di dalam hatinya, ia tetap mencari makna hidup yang lebih dalam. Kelak ia menulis bahwa semua kesenangan itu tidaklah salah, hanya kadang membuat doanya kurang khusyuk dan pikirannya terlalu sibuk memikirkan hal-hal duniawi.
Pada usia 19 tahun, Elizabeth menikah dengan William Magee Seton, seorang pengusaha muda yang tampan dan berasal dari keluarga pedagang kaya. Pernikahan mereka berlangsung pada 25 Januari 1794. Masa-masa awal pernikahan itu dipenuhi kebahagiaan dan harapan. Mereka tinggal di rumah yang nyaman di Wall Street, New York. Elizabeth menjadi istri yang penuh perhatian dan kasih sayang, sementara William sibuk mengelola usaha pelayaran keluarga.
Tuhan menganugerahkan lima orang anak kepada pasangan ini: Anna Maria, William Junior, Richard, Catherine, dan Rebecca Mary. Elizabeth mencurahkan seluruh cintanya untuk membesarkan anak-anaknya. Ia mendidik mereka bukan hanya dengan kata-kata, tetapi terutama dengan teladan hidup sehari-hari. Ia mengajarkan doa, mengajak mereka mencintai Tuhan, dan membimbing mereka agar hidup jujur dan penuh kasih. Nasihatnya sederhana, tetapi mendalam, agar anak-anaknya rajin berdoa dan selalu dekat dengan Tuhan.
Kebahagiaan itu perlahan mulai diuji. Kesehatan William Junior memburuk karena penyakit tuberkulosis. Pada saat yang sama, ayah William meninggal dunia, dan keadaan keuangan keluarga mulai merosot. Situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu membuat usaha pelayaran mereka bangkrut. Kapal-kapal rusak, hilang di laut, dan hutang menumpuk. Keluarga Seton kehilangan rumah mereka dan jatuh miskin. Pada suatu malam Natal yang sangat menyedihkan, Elizabeth bahkan harus berjaga di depan pintu rumah untuk mencegah petugas penyitaan masuk.
Di tengah kesulitan itu, Elizabeth tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Pada suatu musim panas, ia dan anak-anaknya tinggal bersama ayahnya di Staten Island. Di sana, Elizabeth melihat banyak bayi dari keluarga imigran Irlandia yang kelaparan dan kekurangan gizi. Hatinya dipenuhi belas kasih. Ia bahkan memohon kepada ayahnya agar diizinkan menyusui bayi-bayi itu, karena ia baru saja menyapih anak keempatnya. Permintaan itu ditolak, tetapi niat baiknya menunjukkan betapa besar kepedulian Elizabeth kepada sesama.
Tak lama kemudian, pukulan berat kembali datang. Ayah yang sangat ia cintai meninggal dunia akibat wabah demam kuning. Kehilangan itu sangat melukai hati Elizabeth. Dalam kesedihan yang mendalam, ia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia membaca Kitab Suci, menulis doa-doa dalam buku hariannya, dan belajar menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Allah. Dalam sebuah surat, ia menulis bahwa jiwanya telah bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, apa pun yang terjadi.
Pada tahun 1803, demi kesehatan William Junior yang semakin memburuk, dokter menyarankan agar mereka berobat ke Italia. Dengan berat hati, Elizabeth menyetujui saran itu. Untuk membiayai perjalanan, ia menjual semua barang berharga terakhir yang mereka miliki. Perjalanan laut berlangsung cukup menyenangkan, tetapi setibanya di pelabuhan Livorno, Italia, mereka harus menjalani karantina selama empat puluh hari karena wabah demam kuning di New York.
Hari-hari karantina itu menjadi masa paling berat dalam hidup Elizabeth. Ia merawat William Junior yang semakin lemah dan sering batuk berdarah. Ia juga menghibur putrinya, Anna Maria, dengan cerita dan permainan kecil. Dalam udara dingin yang menusuk tulang, Elizabeth dan Anna Maria melompat tali agar tetap hangat. Mereka berdoa bersama, berharap keajaiban terjadi. Namun dua hari setelah Natal, William Junior meninggal pada usia 37 tahun. Elizabeth menjadi seorang janda muda di negeri asing, jauh dari keluarga dan hampir tanpa bantuan.
Di Italia, Elizabeth ditampung oleh keluarga Filicchi, sebuah keluarga Katolik yang saleh dan penuh perhatian. Keramahan dan ketulusan mereka sangat menghibur hati Elizabeth yang terluka. Ia sering mengikuti ibadat di gereja Katolik bersama keluarga ini. Di sanalah hatinya tersentuh oleh iman Katolik, terutama keyakinan akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Pengalaman itu membekas sangat dalam dan menumbuhkan benih iman baru dalam dirinya.
Sekembalinya ke New York, Elizabeth hidup dalam kemiskinan bersama anak-anaknya. Ketertarikannya pada Gereja Katolik membuat banyak teman dan kerabat menjauh. Setelah pergulatan batin yang panjang dan penuh doa, pada 14 Maret 1805, Elizabeth memutuskan untuk menjadi seorang Katolik. Keputusan ini mendatangkan tantangan baru. Banyak orang tidak lagi mau membantu keluarganya. Sekolah yang ia dirikan kehilangan murid karena orang tua menarik anak-anak mereka. Namun Elizabeth tidak goyah. Ia mempersembahkan semua penderitaannya kepada Tuhan dan tetap setia pada pilihannya.
Tuhan tidak meninggalkannya. Pada tahun 1808, seorang imam mengundangnya pindah ke Emmitsburg, Maryland, untuk mengajar. Elizabeth menerima tawaran itu dengan penuh syukur. Pada tahun 1809, ia mendirikan Sekolah St. Yosef, sekolah Katolik gratis pertama bagi anak perempuan di Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, bersama beberapa rekan, ia juga mendirikan komunitas religius pertama di Amerika, yang kemudian dikenal sebagai Serikat Suster-Suster Putri Kasih. Sejak saat itu, ia dipanggil Muder Seton.
Hidup komunitas ini sangat sederhana. Mereka tinggal di rumah kecil yang bocor, tidur di kasur di lantai, dan makan seadanya. Namun semangat mereka besar. Dengan kasih, ketekunan, dan doa, karya mereka berkembang. Sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit mulai berdiri untuk menolong anak-anak dan orang-orang miskin.
Muder Seton memimpin dengan hati seorang ibu. Ia tegas, tetapi lembut. Bijaksana, tetapi rendah hati. Meski sering sakit dan kembali kehilangan orang-orang terkasih, imannya justru semakin kuat. Ia wafat pada 4 Januari 1821 di Emmitsburg, Maryland, akibat tuberkulosis.
Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1975, Gereja Katolik mengangkat Elizabeth Ann Seton sebagai santa. Ia menjadi orang pertama yang lahir di Amerika Serikat yang dikanonisasi. Hingga kini, Santa Elizabeth Ann Seton dikenang sebagai teladan iman, keberanian, dan kasih yang lahir dari penderitaan, tetapi berbuah indah bagi banyak orang, terutama anak-anak. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa dari kesulitan dan air mata, Tuhan dapat menumbuhkan harapan dan cinta yang tak pernah padam.
Bung Yan