Santa Genoveva Torres Morales, Mengubah Derita Menjadi Sukacita bagi Banyak Orang
5 Januari 2026 | 23.42 WIB
SANCTORY - Pagi itu di sebuah kota kecil bernama Almenara, Spanyol, langit seolah ikut berduka. Di rumah sederhana milik sebuah keluarga miskin, seorang anak perempuan kecil harus belajar mengenal hidup melalui air mata. Namanya Genoveva Torres Morales. Ia belum genap berusia delapan tahun ketika satu per satu orang yang paling ia cintai pergi untuk selamanya. Ayah dan ibunya meninggal dunia. Empat dari enam saudara kandungnya juga wafat. Dunia yang seharusnya dipenuhi tawa anak-anak tiba-tiba berubah menjadi sunyi dan dingin. Bagi Genoveva kecil, kesepian bukanlah cerita, melainkan kenyataan yang harus ia jalani setiap hari.
Sejak saat itu, Genoveva tinggal bersama kakak sulungnya, José, yang baru berusia delapan belas tahun. José adalah kakak yang bertanggung jawab, tetapi ia pendiam dan tegas. Rumah mereka jarang dipenuhi canda. Tak ada pelukan hangat seperti yang dimiliki anak-anak lain. Genoveva tumbuh tanpa banyak teman bermain. Ia belajar diam, belajar menahan rindu, dan belajar menerima hidup apa adanya. Kesunyian menjadi sahabat yang menemaninya sejak kecil, membentuk hatinya menjadi kuat meski sering terluka.
Tantangan hidup Genoveva belum berhenti sampai di situ. Ketika usianya masih sangat muda, sebuah penyakit berat menyerangnya. Infeksi parah di lutut membuat tubuhnya lemah dan kesakitan. Dokter akhirnya mengambil keputusan yang sangat berat: kaki Genoveva harus diamputasi. Bagi seorang gadis kecil, kehilangan kaki adalah pukulan yang luar biasa. Ia harus berjalan dengan tongkat penyangga, berbeda dari anak-anak lain seusianya. Namun di balik rasa sakit itu, Genoveva tidak membiarkan hatinya tenggelam dalam putus asa. Ia menangis, tentu saja, tetapi ia juga belajar berdoa. Ia menemukan kekuatan dalam buku-buku rohani dan dalam keheningan yang selama ini sudah akrab dengannya.
Kesepian dan penderitaan justru membuat Genoveva semakin dekat dengan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya, meski hidup terasa begitu berat. Pada tahun 1885, ia pindah ke sebuah rumah penampungan yang dikelola para biarawati Karmelit. Di sana, Genoveva belajar menjahit dan tinggal hampir sepuluh tahun. Hidupnya sederhana dan penuh disiplin. Setiap hari ia bekerja, berdoa, dan belajar menerima diri apa adanya. Di tempat itulah benih panggilan hidupnya mulai tumbuh. Ia merasakan keinginan kuat untuk mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesama.
Namun lagi-lagi, tantangan datang. Genoveva ingin bergabung dengan tarekat Karmelit, tetapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Tubuhnya yang rapuh dan keterbatasan fisiknya menjadi penghalang. Impian itu seolah harus dikubur dalam-dalam. Banyak orang mungkin akan menyerah dan merasa gagal. Tetapi tidak dengan Genoveva. Ia tidak memandang keterbatasan sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari jalan baru yang belum ia kenal.
Dengan hati yang penuh harapan, Genoveva pulang ke kampung halamannya. Di dalam kesunyian dan doa, ia melihat satu kenyataan yang sangat ia pahami: banyak perempuan lanjut usia hidup sendirian, terlupakan, dan tidak memiliki siapa pun. Mereka merasakan kesepian yang sama seperti yang pernah ia alami sejak kecil. Dari sanalah muncul cita-cita besar dalam hati Genoveva. Ia ingin menghadirkan rumah, kehangatan, dan kasih bagi mereka yang merasa sendirian. Ia berkonsultasi dengan para imam dan pembimbing rohani, menyusun rencana dengan penuh kesabaran, meski langkahnya tertatih dan jalannya tidak selalu mudah.
Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya pada 1911, rumah pertama bagi para perempuan yang membutuhkan itu berdiri di Valencia. Rumah kecil itu menjadi tempat berteduh bagi mereka yang kesepian. Tak lama kemudian, rumah-rumah serupa hadir di kota lain. Dari tangan seorang perempuan yang pernah kehilangan segalanya, lahirlah karya besar penuh cinta. Tarekat yang ia dirikan dikenal dengan nama Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Para Malaikat Suci. Para susternya disebut “Angelicas”, malaikat-malaikat kecil yang diutus untuk menemani mereka yang sendirian.
Di usia lanjut, kesehatan Genoveva semakin menurun. Penyakit bertambah, pendengarannya melemah, dan tubuhnya kian rapuh. Namun semangatnya tidak pernah padam. Ia tetap tersenyum, tetap sederhana, dan tetap penuh damai. Hingga akhirnya ia wafat pada awal tahun 1956. Banyak orang mengenangnya sebagai “Malaikat Kesepian”, bukan karena ia hidup sendiri, tetapi karena ia mengubah kesepian menjadi kasih yang menguatkan banyak orang.
Kisah Santa Genoveva Torres Morales mengajarkan, hidup tidak selalu mudah. Kadang penuh kehilangan, penderitaan, dan keterbatasan. Namun dari tantangan itulah dapat tumbuh harapan dan cinta yang besar. Kesepian bukanlah akhir cerita. Di tangan orang yang mau percaya dan berjuang, kesepian bisa berubah menjadi cahaya bagi sesama.
Bung Yan