Santa Josephine Margaret Bakhita, FdCC, Diculik Saat Masih Kecil, Menjadi Kudus dan Dicintai Banyak Orang
8 Februari 2026 | 01.56 WIB
SANCTORY - seorang anak perempuan hidup dengan riang di sebuah desa sederhana bernama Olgossa, di wilayah Darfur, Sudan. Ia lahir sekitar tahun 1869, di tengah keluarga yang hangat dan penuh cinta. Ayahnya adalah orang terpandang di desa, saudara dari kepala kampung. Ia memiliki tiga kakak laki-laki dan tiga saudari perempuan. Hari-harinya diisi tawa, permainan, dan rasa aman. Dalam kenangannya kelak, ia berkata bahwa hidupnya saat itu begitu bahagia, tanpa tahu apa itu penderitaan.
Namun suatu hari, kebahagiaan itu direnggut dengan kasar.
Saat usianya sekitar tujuh atau delapan tahun, sekelompok pedagang budak menculiknya. Dua tahun sebelumnya, kakak perempuannya juga mengalami nasib yang sama. Sejak hari itu, hidupnya berubah total. Ia dipaksa berjalan tanpa alas kaki, menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer hingga ke kota El-Obeid. Di sana, ia dijual seperti barang. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Selama 12 tahun berikutnya, ia berpindah dari satu pemilik ke pemilik lain.
Nama yang diberikan orang tuanya perlahan hilang dari ingatannya, seolah ikut terhapus oleh luka dan ketakutan. Orang-orang yang memperbudaknya memberi nama baru: Bakhita, yang dalam bahasa Arab berarti “yang beruntung”. Nama itu terdengar indah, tetapi hidup yang ia jalani justru penuh kesakitan. Ia juga dipaksa meninggalkan keyakinannya dan mengikuti agama tuannya, tanpa pernah diberi pilihan.
Di rumah salah satu tuannya yang kaya, Bakhita bekerja sebagai pembantu bagi dua anak perempuan. Awalnya ia diperlakukan cukup baik. Namun suatu ketika, tanpa sengaja ia membuat marah salah satu anak laki-laki di keluarga itu. Amarah itu berubah menjadi pukulan dan tendangan yang begitu kejam, hingga tubuh kecil Bakhita tak mampu bangkit dari tikar jeraminya selama lebih dari sebulan.
Pemilik berikutnya adalah seorang jenderal Turki. Di rumah itu, penderitaan menjadi makanan sehari-hari. Cambukan, luka, dan air mata seolah tak pernah berhenti. Bakhita pernah berkata bahwa hampir tak ada satu hari pun berlalu tanpa rasa sakit di tubuhnya. Saat satu luka mulai mengering, luka lain sudah menunggu.
Ada satu kenangan yang terus menghantuinya sepanjang hidup: sebuah peristiwa ketika tubuhnya dilukai dengan cara yang mengerikan. Dengan tepung, garam, dan pisau tajam, pola-pola digambar di kulitnya, lalu disayat dalam-dalam dan ditaburi garam agar bekasnya tak pernah hilang. Lebih dari seratus luka terukir di tubuhnya. Ia tidak pernah lupa rasa sakit itu.
Tahun-tahun berlalu. Dunia di sekelilingnya berubah. Ketika wilayah itu terancam perang, sang jenderal menjual para budaknya. Di Khartoum, Bakhita dibeli oleh seorang pria Italia bernama Callisto Legnani, wakil konsul Italia. Untuk pertama kalinya, ia tidak dipukul. Tidak dimarahi. Ia diperlakukan sebagai manusia.
Ketika Legnani harus kembali ke Italia, Bakhita memohon agar boleh ikut. Ia takut ditinggalkan dan kembali jatuh ke tangan orang-orang kejam. Perjalanan mereka berbahaya: ratusan kilometer melintasi padang pasir dengan unta. Namun akhirnya, mereka tiba di Italia, di sebuah pelabuhan bernama Genoa.
Di sana, Bakhita tinggal bersama keluarga baru, keluarga Michieli. Ia merawat seorang bayi kecil bernama Alice, yang akrab dipanggil Mimmina. Selama beberapa tahun, hidupnya terasa lebih tenang. Namun ketika keluarga itu hendak kembali ke Sudan dan ingin membawanya lagi, Bakhita menolak. Hatinya mengatakan bahwa kali ini, ia tidak ingin dipaksa.
Ia tinggal sementara di sebuah biara milik para suster Kanossian di Venesia. Di tempat itulah, untuk pertama kalinya, Bakhita mengenal Yesus. Para suster mengajarinya dengan sabar, penuh kelembutan. Bakhita merasa seolah akhirnya bertemu dengan Allah yang selama ini ia rasakan dalam hatinya, tetapi belum ia kenal nama-Nya.
Saat keluarganya yang lama menuntut agar ia kembali, perkara itu dibawa ke pengadilan. Pada tahun 1889, pengadilan Italia memutuskan bahwa perbudakan tidak pernah sah menurut hukum Italia. Artinya, Bakhita tidak pernah menjadi budak secara hukum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar bebas.
Ia memilih tinggal bersama para suster.
Pada awal tahun 1890, ia dibaptis dan menerima nama baru: Yosefina Margareta Fortunata. Beberapa tahun kemudian, ia mengikrarkan kaul sebagai suster Kanossian. Sejak saat itu, hidupnya diabdikan untuk melayani.
Ia tinggal di kota kecil Schio, di Italia utara, selama puluhan tahun. Ia bekerja sebagai juru masak, penjaga gereja, dan penyambut tamu. Orang-orang mengenalnya karena senyumnya yang lembut dan suaranya yang menenangkan. Warga setempat memanggilnya dengan penuh sayang: Sor Moretta, suster berkulit cokelat.
Ketika perang melanda dan bom jatuh di sekitar kota, orang-orang merasa aman saat berada di dekatnya. Mereka percaya bahwa kehadirannya membawa damai.
Di masa tuanya, tubuhnya lemah dan penuh rasa sakit. Ia harus duduk di kursi roda. Namun senyumnya tidak pernah pergi. Jika ditanya bagaimana keadaannya, ia hanya menjawab dengan sederhana, “Seperti yang Tuhan kehendaki.”
Menjelang akhir hidupnya, kenangan masa kecilnya kembali muncul. Ia berbisik tentang rantai yang terlalu ketat, meminta agar dilonggarkan. Tak lama kemudian, ia kembali tenang. Saat seseorang mengingatkannya bahwa hari itu adalah hari Sabtu, hari yang istimewa bagi Maria, wajahnya berseri. Dengan suara lirih namun penuh sukacita, ia berkata, “Bunda Maria… Bunda Maria…”
Itulah kata-kata terakhirnya.
Yosefina Bakhita wafat pada 8 Februari 1947. Ribuan orang datang untuk memberi penghormatan. Bertahun-tahun kemudian, Gereja mengakui kesucian hidupnya. Ia dinyatakan sebagai santa pada tahun 2000. Seorang perempuan Afrika, yang pernah diperbudak, namun hatinya tetap merdeka.
Ketika suatu hari seorang murid bertanya apa yang akan ia lakukan jika bertemu orang-orang yang pernah menyiksanya, jawabannya sungguh mengejutkan. Ia berkata bahwa ia akan berlutut dan mencium tangan mereka. Bukan karena melupakan luka, melainkan karena dari jalan yang gelap itulah ia akhirnya menemukan terang.
Bung Yan