Santo André Bessette CSC, Dari Bayi Rapuh Menjadi Cahaya Dunia
6 Januari 2026 | 09.17 WIB
SANCTORY - Pagi-pagi yang dingin sering menyelimuti Mont-Saint-Grégoire, sebuah kota kecil di Quebec. Di sanalah, pada 9 Agustus 1845, lahir seorang bayi lelaki yang tubuhnya begitu lemah hingga orang-orang dewasa di sekelilingnya cemas akan hidupnya. Bayi itu bernama Alfred Bessette. Tak banyak yang menyangka bahwa anak kecil yang rapuh, sering sakit, dan nyaris tak berdaya ini kelak akan dikenal dunia sebagai Santo André dari Montreal. Kisah hidupnya dimulai bukan dengan kemegahan, melainkan dengan tantangan, air mata, dan perjuangan yang panjang.
Sejak hari pertama kehidupannya, Alfred sudah harus berjuang. Tubuhnya kecil dan lemah. Karena khawatir ia tidak akan bertahan lama, pastor paroki membaptisnya secara darurat keesokan hari setelah ia lahir. Alfred tumbuh dalam keluarga miskin. Ayahnya, Isaac Bessette, bekerja sebagai tukang kayu dan penebang pohon, pekerjaan yang berat dan berbahaya. Ibunya, Clothilde, adalah seorang ibu sederhana yang penuh kasih, yang berusaha mendidik anak-anaknya dengan segenap kemampuan yang ia miliki. Alfred adalah anak kedelapan dari dua belas bersaudara. Empat di antaranya meninggal saat masih bayi. Duka dan kekurangan sudah menjadi bagian dari hidup keluarga ini sejak awal.
Ketika Alfred masih sangat kecil, cobaan besar datang. Ayahnya pergi ke Farnham untuk mencari pekerjaan demi menghidupi keluarga. Namun, nasib berkata lain. Isaac Bessette meninggal akibat tertimpa pohon saat bekerja. Alfred baru berusia sembilan tahun. Kehilangan ayah membuat hidup keluarga itu semakin berat. Ibunya harus membesarkan sepuluh anak seorang diri, dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Alfred kecil sering melihat ibunya bekerja keras tanpa mengeluh, meski wajahnya menyimpan lelah dan kesedihan.
Kesulitan itu belum berakhir. Tiga tahun kemudian, ibunya meninggal karena penyakit tuberkulosis. Pada usia 12 tahun, Alfred kehilangan kedua orang tuanya. Ia menjadi anak yatim piatu, tanpa tempat bergantung. Bagi anak seusianya, kehilangan ini adalah luka yang sangat dalam. Namun, Alfred tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ia justru belajar menerima hidup apa adanya, meski ia belum sepenuhnya mengerti mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi.
Alfred kemudian diasuh oleh Timothée dan Rosalie Nadeau di Saint-Césaire. Di rumah sederhana itu, ia belajar tentang iman dan ketekunan. Pastor paroki mereka, Romo André Provençal, mengajarkan pelajaran agama kepada anak-anak. Dari sanalah, dalam hati Alfred yang polos dan jujur, tumbuh cinta yang mendalam kepada Tuhan. Ia sangat menyukai kisah Santo Yosef, sosok sederhana yang setia, pekerja keras, dan selalu taat kepada kehendak Allah. Sejak kecil, Alfred merasa dekat dengan Santo Yosef. Ia juga sering merenungkan penderitaan Yesus, dan belajar bahwa penderitaan bisa menjadi jalan menuju kasih yang lebih besar.
Namun, tantangan hidup Alfred tidak berhenti di sana. Ia sempat bersekolah, tetapi hanya sebentar. Tubuhnya yang lemah dan kemampuannya yang terbatas membuatnya sulit mengikuti pelajaran. Ia hanya bisa membaca dan menulis namanya sendiri, itu pun dengan susah payah. Akhirnya, ia dikeluarkan dari sekolah. Banyak orang menganggap Alfred tidak memiliki masa depan yang cerah. Ia anak yatim, miskin, lemah, dan kurang pendidikan. Timothée Nadeau bahkan berpikir bahwa Alfred sebaiknya menjadi buruh kasar saja, tanpa perlu sekolah lebih tinggi.
Alfred tidak membantah, tetapi ia juga tidak berhenti berusaha. Ia berpindah-pindah tempat tinggal dan mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah menjadi petani, tukang logam, pandai besi, pembuat roda, tukang sepatu, hingga pembuat roti. Namun, satu demi satu pekerjaan itu harus ia tinggalkan. Tubuhnya tidak cukup kuat untuk pekerjaan berat. Ia sering sakit dan kelelahan. Mungkin banyak orang di sekitarnya mulai menganggapnya gagal. Tetapi Alfred tidak menyerah. Ia tetap bekerja sejauh yang ia mampu, dengan hati yang jujur dan penuh kesabaran.
Pada usia 18 tahun, Alfred pergi jauh dari kampung halamannya, menuju Amerika Serikat. Ia bekerja di pabrik tekstil di Connecticut dan Rhode Island. Pekerjaan itu pun tidak mudah, tetapi Alfred tetap bertahan. Ia tidak mencari kekayaan atau kenyamanan. Ia hanya ingin hidup dengan layak dan berguna bagi orang lain. Setelah kembali ke Kanada, hidupnya perlahan menemukan arah yang baru.
Romo André Provençal, yang sejak awal memperhatikan kesalehan Alfred, melihat sesuatu yang istimewa dalam diri pemuda yang lemah ini. Ia melihat hati yang tulus, iman yang sederhana, dan kasih yang besar. Romo Provençal kemudian memperkenalkan Alfred kepada Kongregasi Salib Suci di Montreal. Ia bahkan menulis sebuah catatan singkat namun penuh makna, “Saya mengirimkan kepada Anda seorang santo.” Meski sempat ditolak karena kondisi kesehatannya, akhirnya Alfred diterima menjadi anggota tarekat itu. Ia mengambil nama Bruder André.
Sebagai Bruder André, tugasnya sangat sederhana. Ia menjadi penjaga pintu di Collège Notre-Dame. Ia menyambut orang yang datang, membersihkan, mencuci pakaian, dan mengantar pesan. Tidak ada pekerjaan yang tampak istimewa. Namun, Bruder André menjalaninya dengan penuh cinta. Ia percaya bahwa pekerjaan kecil pun bisa menjadi besar jika dilakukan dengan hati yang tulus.
Di balik tugas sederhana itu, Bruder André mulai dikenal sebagai sahabat bagi orang-orang sakit dan menderita. Ia tidak memiliki pendidikan tinggi, tidak bisa menjelaskan hal-hal rumit. Ia hanya memiliki doa dan kepercayaan penuh kepada Tuhan dan Santo Yosef. Ia mengajak orang-orang berdoa, menguatkan mereka, dan mengoleskan minyak sambil memohon pertolongan Tuhan. Banyak orang merasa dikuatkan, bahkan sembuh. Bruder André tidak pernah mengaku sebagai penyembuh. Ia selalu berkata bahwa Tuhanlah yang bekerja, bukan dirinya.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Ia pernah ditolak, dicurigai, bahkan dianggap berbahaya. Ada yang menyebutnya penipu. Ada yang takut kehadiran orang sakit akan membawa penyakit. Namun, Bruder André tetap tenang. Ia tidak marah, tidak membalas. Ia terus melayani dengan cara yang sederhana dan penuh kasih.
Dari sebuah kapel kecil yang ia impikan, akhirnya berdirilah Oratorium Santo Yosef, sebuah basilika besar yang kini menjadi tempat ziarah bagi jutaan orang. Bruder André wafat pada 6 Januari 1937 dalam usia 91 tahun. Satu juta orang datang memberikan penghormatan terakhir. Itu adalah tanda betapa hidup sederhana seorang bruder penjaga pintu telah menyentuh begitu banyak hati.
Kisah Santo André mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidak selalu dimulai dengan kemudahan. Kadang kita lahir dalam keterbatasan, menghadapi kehilangan, kegagalan, dan penolakan. Namun, dengan iman, kesabaran, dan kerendahanhati, kesulitan bisa diubah menjadi jalan untuk menyalakan harapan. Dari tubuh yang lemah, Tuhan menumbuhkan kekuatan. Dari hidup yang sederhana, Tuhan menghadirkan cahaya bagi dunia.
Bung Yan