Santo Makarius dari Mesir, Jalan Sunyi Menuju Hati Tuhan
2 Januari 2026 | 03.15 WIB
SANCTORY - Pada suatu pagi yang sunyi pada awal abad ke-4, di sebuah desa kecil bernama Ptinapor, Mesir, lahirlah seorang anak dari keluarga sederhana. Tidak ada tanda-tanda istimewa yang mengiringi kelahirannya. Ia diberi nama Makarius.
Seperti kebanyakan anak seusianya, Makarius tumbuh dalam kesederhanaan. Atas kehendak orang tuanya, ia menikah ketika masih muda. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Istrinya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Di tengah duka yang mendalam, setelah memakamkan sang istri, Makarius berbicara dalam hatinya dengan jujur dan tegas, “Berjaga-jagalah, Makarius. Jagalah jiwamu. Sudah saatnya engkau meninggalkan kehidupan duniawi.”
Kata-kata itu bukan sekadar ratapan, melainkan titik balik hidupnya. Sejak peristiwa itu, ia selalu hidup dengan kesadaran bahwa dunia ini tidak kekal. Ingatan akan kematian tidak membuatnya putus asa, justru sebaliknya: ia semakin rajin berdoa, bertobat, dan hidup sederhana. Gereja menjadi rumah keduanya. Kitab Suci menjadi sahabat setianya. Namun, kesalehannya tidak membuatnya melupakan tanggung jawab. Ia tetap merawat orangtuanya yang telah lanjut usia, karena ia yakin bahwa menghormati ayah dan ibu adalah perintah Tuhan yang tak boleh diabaikan.
Selama orangtuanya masih hidup, Makarius menggunakan harta yang ia miliki untuk merawat mereka. Di sela-sela kesibukan itu, ia berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan menunjukkan jalan hidup yang harus ia tempuh. Doa itu pun dijawab dengan cara yang sederhana namun mendalam: Tuhan mengutus seorang pertapa tua yang tinggal di padang gurun dekat desanya.
Sang pertapa itu menerima Makarius dengan penuh kasih, seperti seorang ayah menyambut anaknya. Dari dialah Makarius belajar hidup rohani: berjaga-jaga dalam doa, berpuasa, bekerja dengan tangan sendiri, dan hidup secukupnya. Ia diajari membuat keranjang dari anyaman daun palma. Pekerjaan sederhana yang kelak menjadi sumber nafkahnya. Sang pertapa bahkan membangun sebuah pondok kecil agar Makarius dapat tinggal dan berdoa dalam keheningan.
Jalan sunyi yang Makarius lalui tidak selalu bebas dari gangguan. Ketika seorang uskup setempat datang ke Ptinapor dan mengenal kehidupan Makarius yang saleh, ia menahbiskannya menjadi imam. Makarius sebenarnya tidak menginginkan kehormatan itu. Baginya, ketenangan doa jauh lebih berharga daripada pujian manusia. Diam-diam, ia pun meninggalkan tempat itu dan kembali mencari kesunyian.
Di padang gurun, Makarius menghadapi pergumulan yang lebih berat. Iblis menggoda dan menakut-nakutinya, mengguncang pondoknya, membisikkan pikiran-pikiran jahat. Namun, Makarius tidak melawan dengan kekerasan. Ia melawan dengan doa, puasa, dan tanda salib.
Cobaan terberat justru datang dari sesama manusia. Ia difitnah telah berbuat dosa dengan seorang perempuan dari desa tetangga. Makarius diseret keluar, diejek, dan dipermalukan. Ia tidak membela diri. Dengan tabah dan sabar, ia menerima semuanya. Bahkan, dari hasil menjual keranjang anyamannya, ia mengirimkan uang untuk membantu perempuan yang sedang hamil itu.
Waktu akhirnya membuka kebenaran. Perempuan itu mengaku bahwa Makarius tidak bersalah dan menyebutkan siapa ayah sebenarnya dari anak yang dikandungnya. Orang-orang pun ingin meminta maaf. Namun, Makarius tidak mencari pembenaran atau pujian. Pada malam hari, ia pergi diam-diam dan menetap di Gunung Nitria, di padang gurun Pharan.
Fitnah manusia justru membuat jiwanya semakin matang. Setelah tiga tahun hidup menyepi, Makarius pergi menemui Santo Antonius Agung, bapak para rahib Mesir. Ia diterima dengan penuh kasih dan menjadi muridnya yang setia. Meski usianya belum genap tiga puluh tahun, Makarius dijuluki “penatua muda” karena kebijaksanaan dan kedewasaan rohaninya.
Ia kembali menghadapi serangan iblis. Suatu hari, iblis mengaku kalah dan berkata, “Hanya satu hal yang membuatmu lebih unggul dariku: kerendahan hatimu.”
Pada usia empat puluh tahun, Makarius dipercaya memimpin para rahib di padang gurun Skete. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta doa dan nasihat. Mukjizat-mukjizat pun terjadi. Namun, demi menjaga keheningan batin, Makarius menggali sebuah gua di bawah pondoknya sebagai tempat doa.
Kerendahan hatinya sungguh mengagumkan. Ketika melihat seorang pencuri mencuri barang-barangnya, Makarius tidak marah. Ia malah membantu pencuri itu mengikat barang curiannya sambil berkata dalam hati, “Kita tidak membawa apa-apa ke dunia ini, dan tidak bisa membawa apa-apa saat meninggalkannya. Terpujilah Tuhan dalam segala hal.”
Santo Makarius wafat pada usia 90 tahun. Menjelang ajalnya, Santo Antonius dan Santo Pakhomius menampakkan diri kepadanya dan memberitahukan bahwa waktunya telah tiba. Dengan tenang, Makarius menyerahkan jiwanya kepada Tuhan, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan jiwaku.”
Selama 60 tahun hidup di padang gurun, Santo Makarius mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendalam: tujuan hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhan melalui iman, kasih, doa, dan kerendahan hati. Hingga kini, ajaran dan doanya terus hidup, mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang bising, keheningan dan kerendahan hati justru menuntun manusia pada kebahagiaan sejati.
Bung Yan