Santo Paulus Miki, SJ Senyum di Atas Salib dari Negeri Matahari Terbit
6 Februari 2026 | 12.27 WIB
SANCTORY - Di sebuah negeri yang indah bernama Jepang, sekitar tahun 1562, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Paulus Miki. Ia berasal dari keluarga Jepang yang cukup berada. Sejak kecil, Miki dikenal sebagai anak yang cerdas, sopan, dan suka belajar. Orang tuanya menyekolahkannya di tempat yang baik, dan di sanalah Miki bertemu dengan para imam Yesuit yang datang dari jauh untuk memperkenalkan Kabar Gembira tentang Yesus.
Miki kecil sangat senang belajar. Ia bukan hanya pandai membaca dan berbicara, tetapi juga punya hati yang lembut dan peduli. Ia sering bertanya, “Mengapa Yesus mau mengasihi semua orang, bahkan yang menyakiti-Nya?” Pertanyaan-pertanyaan itu membuat imannya semakin dalam. Hingga akhirnya, Miki memutuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya: ia bergabung dengan Serikat Jesus.
Ketika dewasa, Miki menjadi seorang pengkhotbah yang hebat. Kata-katanya sederhana, mudah dimengerti, dan menyentuh hati. Banyak orang Jepang yang mendengarkan ceritanya tentang Yesus menjadi tertarik dan akhirnya percaya. Miki tidak memaksa siapa pun. Ia hanya bersaksi dengan hidupnya: ramah, rendah hati, dan penuh kasih.
Namun, kabar tentang semakin banyaknya orang yang menjadi Katolik membuat penguasa Jepang saat itu, Toyotomi Hideyoshi, merasa takut. Ia khawatir pengaruh orang asing dan ajaran Kristen akan mengganggu negaranya. Maka, dimulailah masa yang sulit: umat Katolik dikejar, ditangkap, dan dianiaya.
Suatu hari, Miki ditangkap bersama teman-temannya. Mereka bukan penjahat. Mereka hanya orang-orang yang percaya kepada Yesus. Miki dan kawan-kawannya dipenjara, lalu dipaksa berjalan kaki sejauh hampir 1.000 kilometer dari Kyoto ke Nagasaki. Itu perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.
Selama perjalanan itu mereka bernyanyi dan berdoa. Mereka menyanyikan pujian kepada Tuhan, meski kaki mereka luka dan hati mereka sedih. Miki terus menguatkan teman-temannya, “Jangan takut. Tuhan berjalan bersama kita.”
Pada tanggal 5 Februari 1597, di sebuah bukit yang menghadap kota Nagasaki, Miki dan 25 orang lainnya disalibkan. Di antara mereka ada imam, orang dewasa, bahkan anak-anak kecil yang membantu imam sebagai putra altar.
Saat tergantung di kayu salib, Miki tidak marah. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian. Justru dari atas salib, ia menyampaikan kotbah terakhirnya. Dengan suara yang tenang dan wajah yang penuh damai, ia berkata bahwa ia mengampuni para algojonya dan tetap setia kepada Yesus sampai akhir.
Miki dikenal sebagai yang paling terkenal dari 26 martir Jepang. Mereka wafat karena iman mereka kepada Yesus. Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam sejarah Gereja Katolik di Jepang.
Setelah peristiwa itu, banyak orang Katolik harus bersembunyi. Selama ratusan tahun, iman Kristen hidup diam-diam di rumah-rumah, dari orang tua kepada anak-anak. Mereka disebut “umat Katolik tersembunyi”. Iman mereka tetap hidup, meski tanpa imam dan gereja besar.
Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1862, Paus Pius IX mengangkat Paulus Miki dan teman-temannya sebagai orang kudus. Gereja merayakan pesta mereka setiap tanggal 6 Februari. Tidak hanya Gereja Katolik, beberapa Gereja Kristen lain juga mengenang keberanian mereka.
Di berbagai tempat, bahkan di Italia, dibangun gereja dan monumen untuk mengenang martir Jepang, sebagai tanda bahwa kasih dan iman tidak pernah mati.
Bung Yan