Santo Raymond dari Peñafort OP, Pena yang Menata Gereja dengan Hati
7 Januari 2026 | 01.53 WIB
SANCTORY - Sejak usia muda hingga akhir hidupnya yang sangat panjang, Santo Raymond dari Peñafort dikenal bukan karena kekuasaan atau kemegahan, melainkan karena karya-karya besarnya yang menata kehidupan Gereja dengan rapi, adil, dan penuh belas kasih. Ia adalah seorang biarawan Dominikan yang bekerja dengan pena, pikiran, dan hati. Melalui tulisannya, nasihatnya, dan keberaniannya bersikap jujur, Santo Raymond membantu banyak orang memahami hukum Gereja bukan sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai jalan untuk hidup lebih tertib, damai, dan bermartabat.
Di mata Gereja, Santo Raymond adalah seorang ahli hukum kanonik yang luar biasa. Hukum Gereja pada zamannya tersebar dalam banyak buku, surat, dan keputusan para paus yang sulit dipahami. Banyak imam dan umat kebingungan karena aturan-aturan itu tidak tersusun rapi. Melihat keadaan ini, Raymond bekerja dengan sabar dan teliti. Ia mengumpulkan, menyeleksi, dan menyusun hukum-hukum tersebut menjadi satu kumpulan yang jelas dan mudah dipelajari. Karya besar itu dikenal sebagai Dekretal Paus Gregorius IX. Selama hampir tujuh abad, kumpulan hukum ini menjadi pegangan utama Gereja Katolik di seluruh dunia. Melalui karya ini, kehidupan umat, para imam, dan para uskup diatur dengan lebih adil dan terarah.
Selain menyusun hukum Gereja, Raymond juga menulis buku-buku yang membantu para imam dalam tugas sehari-hari. Salah satunya adalah Summa de Casibus Poenitentiae, sebuah buku panduan bagi para imam yang mendengarkan pengakuan dosa. Buku ini tidak hanya berbicara tentang kesalahan manusia, tetapi juga mengajarkan bagaimana mendengarkan dengan hati, memahami pergumulan hidup, dan memberikan bimbingan yang penuh kasih. Banyak imam merasa tertolong oleh buku ini karena Raymond tidak hanya berpikir dengan kepala, tetapi juga dengan hati yang lembut.
Karya-karyanya lahir dari perjalanan hidup yang panjang dan penuh belajar. Raymond lahir sekitar tahun 1175 di Santa Margarida i els Monjos, dekat Barcelona, wilayah Catalonia. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang dekat dengan istana Aragon. Sejak kecil, Raymond dikenal cerdas dan rajin. Ia gemar membaca, bertanya, dan merenung. Setelah belajar di Barcelona, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Bologna di Italia, salah satu pusat ilmu pengetahuan terbaik di Eropa pada masa itu. Di sana, ia mempelajari hukum sipil dan hukum Gereja hingga meraih gelar doktor.
Kepandaiannya membuat Raymond dipercaya mengajar hukum Gereja. Selama bertahun-tahun ia menjadi pengajar di Bologna. Namun, di tengah kesibukan akademisnya, hatinya terus mencari makna hidup yang lebih dalam. Di Bologna, ia bertemu dengan Ordo Dominikan yang baru berdiri. Ia terkesan oleh semangat para biarawan Dominikan yang hidup sederhana, rajin belajar, dan giat mewartakan kebenaran. Pada usia 47 tahun, usia yang tidak muda lagi untuk memulai hidup baru, Raymond memutuskan menjadi biarawan Dominikan. Ia meninggalkan kenyamanan dan kehormatan duniawi demi hidup yang dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan dan sesama.
Sebagai biarawan, Raymond tidak hanya berdoa dan belajar. Ia terlibat aktif dalam karya sosial dan kemanusiaan. Ia berperan besar dalam lahirnya Ordo Mercedarian, sebuah komunitas yang bertujuan mendampingi para tahanan dan membebaskan mereka. Ketika Petrus Nolasco meminta nasihatnya, Raymond dengan penuh kebijaksanaan membantu menghubungkan gagasan mulia itu dengan pihak kerajaan. Berkat dukungannya, ordo tersebut mendapat izin resmi dan mulai berkarya menolong banyak orang yang hidup dalam penderitaan.
Perhatiannya juga tertuju pada dialog antarbudaya dan perdamaian. Raymond menyadari bahwa untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, seseorang perlu memahami bahasa dan budaya mereka. Ia mendorong para biarawan Dominikan mempelajari bahasa Arab dan Ibrani. Ia bahkan mendirikan sekolah bahasa di Tunis agar para biarawan dapat berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan membantu membebaskan para tawanan. Baginya, ilmu pengetahuan adalah jembatan untuk saling memahami, bukan alat untuk merendahkan.
Kepercayaan Gereja kepadanya semakin besar. Ia diangkat menjadi penasihat rohani kardinal dan kemudian dipanggil ke Roma oleh Paus Gregorius IX. Di sana, ia dipercaya menangani urusan pengampunan dosa dan menjadi penata utama hukum Gereja. Tugas ini tidak mudah, tetapi Santo Raymond menjalaninya dengan kesabaran dan ketelitian luar biasa. Ia bekerja bukan demi pujian, melainkan demi kebaikan banyak orang.
Dalam kehidupannya, Raymond juga menunjukkan keberanian moral. Sebagai bapa pengakuan Raja James I dari Aragon, ia berani menegur sang raja ketika hidupnya tidak sesuai dengan nilai kebenaran. Teguran itu tidak disukai dan bahkan membuatnya dilarang meninggalkan Pulau Mallorca. Namun, iman dan keyakinannya lebih kuat daripada rasa takut. Dalam kisah yang terkenal, ia berlayar di atas jubahnya sendiri untuk kembali ke Barcelona. Kisah ini dikenang sebagai tanda bahwa keberanian dan iman yang teguh dapat membuka jalan yang tampaknya mustahil.
Meski pernah dipercaya memimpin Ordo Dominikan dan diminta menjadi uskup agung, Raymond selalu rendah hati. Ia lebih suka berjalan kaki mengunjungi biara-biara, menyemangati para biarawan dan biarawati, mendengarkan keluh kesah mereka, dan membantu dengan nasihat yang bijak. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang adil dan penuh belas kasih. Dalam memberikan nasihat hukum, ia selalu mengingatkan bahwa keadilan harus berjalan bersama cinta dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Pada usia lanjut, ketika banyak orang memilih beristirahat, Santo Raymond tetap berkarya. Ia mendukung karya-karya besar Gereja, mendorong penulisan buku-buku penting, membantu pendirian komunitas iman di berbagai wilayah, serta memimpin dialog iman dengan sikap adil dan damai. Bahkan dalam debat besar antara umat Kristen dan Yahudi di Barcelona, ia memastikan semua pihak dapat berbicara dengan bebas dan saling menghormati.
Hingga usia sekitar seratus tahun, Raymond dari Peñafort tetap menjadi pribadi yang jernih pikirannya dan hangat hatinya. Ia wafat di Barcelona pada tahun 1275 dan dimakamkan di Katedral Santa Eulalia. Karya-karyanya terus hidup jauh melampaui zamannya, menuntun Gereja dan banyak orang untuk berjalan dalam kebijaksanaan, keadilan, dan iman yang penuh kasih.
Bung Yan